News dan Informasi Terkini

Resensi Buku ‘Pendidikan Holistik Sebuah Persfektif Praktis Pada Boarding School’

Oleh : Jaja Jamaludin, S.Pd., M.Si

175

DALAM terminologi theologi, proses pendidikan tiada lain adalah proses menjemput Nilai-nilai Kebenaran
untuk kemudian diinternalisasi secara komprehensif dandiejawantahkan dalam hidup dan kehidupan. Penjemputan Nilai-nilai kebenaran itu konsekwensi logis dari karakter dasar yang disematkan Tuhan pada manusia sebagai makhluk yang hanif, yaitu makhluk yang senantiasa bertendensi pada Nilai-nilia Kebenaran.

Dalam logika ushul fiqh disebutkan bila untuk mencapaisesuai yang wajib memerlukan proses atau support atau eksistensi apapun sebagai mendium untuk menunaikan kewajiban itu maka mengadakan proses, supporting atau eksistensi apapun itu menjadi wajib pula.Itulah sebabnya mengapa kehadiran sumber ilmu, guru dan medium atau fasilitas untuk menuntut ilmu menjadi hal yan wajib pula adanya. Karena semua itu akan menghantarkan pada puncak tertinggi kehanifan seseorang terhadap Nilai-nilai kebenaran. Apapun jenisdan macamnya tentu saca seluruh faktor penopang tertunaikannya kawajiban, maka menjadi wajib pula untuk diwujudkan.

Persoalanya, jika faktor pendukung untuk pencapaian koordinat hanif itu ternyata pada empiriknya justru gagal mengantarkan seseorang menemukan koordinat kehanifannya, apakah eksistensinya masih berkadar wajib atau justru haram. Terlbih bila faktor pendukungitu justru bukan saja bias mengantarkan sesoorang kepada koordinast hanif, tetapi telah memproduksi peradaban antitesa kehanifan seseorang. Sudah barang tentu kadar eksistensinya menjadi tidak wajib bakan boleh jadi berubah menjadia haram. Lalu, kalau faktor pendukung (sumber ilmu, guru, sekolah) justru telah memproduksi peradaban anti-hanif ini tetap ada, maka secara theologis pula subjek yang berdiri dan atau pihak yan bertanggung jawab atas hadirnya faktor pendukung yang disfungsional itu bukan saja harus bertanggung jawab melainkan telah sempurna menyandang predikat pelaku Dosa theologis penyelenggara pendidikan.

Dosa Theologis

Jika entitas sekolah termasuk masyarakat pendidikan sekolah tersebut tidak mampu mengantarkan anak didik menemukan koordinat hanifnya peserta didik, maka eksistensi sekolah tidak lagi wajib melainkan boleh jadi haram. Mungkin saja tidak seluruhnya entitas sekolah gagal mengahantarkan anak didiknya sebagai insan yang hanif, maka kadar dosa teologis sekolah tentu gradasional. Jika penyelenggaraan pendidikan sekolah justru telah melahirkan peradaban antitesa dari peradaban hanif, saat itu pula sekolah seharusnyabukan saja dibubarkan tetapi juga harus menebus dosa-dosa teologisnya selama ini dialakukan.Sekolah-sekolah saat ini tampaknya, tidak selamat dari kondisi seperti diungkapkan diatas. Keeberadaan sekolah boleh jadi justru pada taraf tertentu bukan dibutuhkan melainkan sebaliknya sekolah telah memproduksi peradaban antitesa hanif dalam diri siswa.

Sekolah hari ini justru telah menjadi pusat penyemaianbenaih-benih peradaban brutal, tidak senonoh, tidak etis, anti social dan tidak ramah secara komunal dan social. Sekolah-sekolah seperti ini justru bukan saja dihentikan tapi juga mesti diminta pertanggungjawaban kepada public (masyarakat). Sekolah yang melakukan dosa theologies layak diminta pertanggung jawaban hingga ke wilayah hukum sekalipun.

Api idealisme pendidikan yang sejatinya memungkinkan menemukan kehanifan entitas sekolah yang memerdekaan siswa dan mengantarkannya kepada koordinat mulia sebagai pembelajar sejati, boleh jadi telah redup bahkan ada yang sudah padam. Sehingga di tengah terang benderangnya hari-hari kegiatan sekolah yang sarat dengan aliran aktivitas rutinitas mekanistik itu, entitas sekolah berjalan dalam kegelapan yang takmampu memperadabkan para siswanya lagi.

Tidaklah sulit untuk memahami mengapa para siswa kita sekarang ini lebih sering menabrak, membentur dan bahkan menginjak aturan, norma bahkan Tata Nilai hingga nilai-nilai spiritualitas. Ini karena sesungguhnya mereka berjalan dalam terang benderangnya sinar matahari tetapi dalam kegelapan idiologi dan paradigma pendidikan yang sejati.

Buku ini mengajak kita melakukan analisis kritis pada tataran ideologi dan paradigma sekolah yang sejatinya menjadi ekosistem pendidikan yang memuliakan setiap pembelajar. ***

Peresensi adalah Praktisi Bidang Pendidikan

Leave A Reply

Your email address will not be published.